Linux Blankon

Tahu BlankOn kan? Distro Linux versi Indonesia itu? Sudah pernah lihat logonya? Gambar lucu sebuah topi tradisional Indonesia. Berikut saya kutipkan makna filosofisnya dari Wiki:
BlankOn adalah tutup kepala khas beberapa suku/budaya di Indonesia, antara lain suku Jawa (sebagian besar berasal dari provinsi Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur), suku Sunda (sebagian besar berasal dari provinsi Jawa Barat dan Banten), suku Madura, suku Bali, dan lain-lain.
BlankOn juga berarti blank (bilangan biner 0) dan on (bilangan biner 1) atau topi digital (modern) dengan tampilan klasik (kuno).
Arti lain kata BlankOn adalah perubahan dari blank (kosong) menjadi on (menyala atau berisi).
Arti filosofi BlankOn adalah harapan agar pengguna distro BlankOn berubah dari belum sadar (kosong) menjadi sadar (berisi) bahwa ada Linux yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan skill di bidang TI, martabat, dan kemandirian bangsa Indonesia.
BlankOn diharapkan menjadi penggerak (Activator) atau meningkatkan motivasi masyarakat Indonesia untuk menggunakan dan mengembangkan Linux dan FOSS lainnya. BlankOn juga sebagai pelindung (tutup kepala) dari ketergantungan terhadap software proprietary.
BlankOn telah akan memasuki versi ke 4.0. Cuma untuk versi 4 ini gambar logo tersebut tidak akan digunakan lagi. Konon katanya ada yang keberatan karena ada sentimen kesukuan.Timbul masalah untuk icon yang digunakan di dalam panel.
Saya pribadi suka sekali ketika pertama kali melihat logo itu, bukan karena saya orang Jawa tapi karena lucu, unik dan terasa punya identitas yang mencerminkan Indonesia kalau disanding dengan logo Linux yang lain. Bagi saya orang orang yang merasa logo itu mengandung sentimen kesukuan adalah orang yang takut akan perbedaan.
Seandainya sejak awal logonya bukan topi blangkon tapi misalnya destar dari Bali atau Peci atau artefak budaya khas Indonesia lain yang bisa memberi identitas, saya pikir juga tak masalah. Justru disinilah kita diuji bagaimana kita menghayati ke-Bhineka Tunggal Ika-an kita dengan tidak menghapus identitas suku yang berbeda beda itu tapi tetap merasa terwakili sebagai satu bangsa.
Selain itu untuk branding tentu tidak bagus gonta ganti logo, akan susah sekali melakukancampaign terhadap sesuatu yang baru. Kalau kiat sentimen suku bisa merubah logo maka apakah setelah logo terakhir lantas kiat itu akan hilang? Tidak juga sebab nama BlankOn juga bisa dipermasalahkan karena mirip dengan kata blangkon topi jawa itu. Tak akan ada habisnya.
Kalau mau lebih netral mungkin bisa diambil nama binatang khas Indonesia dengan gambarnya sekaligus. Seperti misalnya Anoa atau Cendrawasih atau Jalak Bali atau Kecoa sekalian.. ;-p eh kecoa itu bukan khas Indonesia yah?
Menurut saya khazanah kekayaan budaya kita lebih pas jika diangkat tanpa perlu dicurigai ada unsur dominasi budaya tertentu. Untuk menghindari kecurigaan dominasi mayoritas mungkin bisa diangkat dari daerah yang minoritas seperti gambar koteka misalnya. Tapi bukan berarti bebas masalah juga lho ...
Saya rasa yang paling baik bukan mengganti logo tapi memberi pengertian pada masyarakat yang mempermasalahkan itu bahwa kami masyarakat IT tidak memiliki niat untuk melakukan hegemoni budaya daerah tertentu.
Kenapa sih pake curiga dengan niat baik bangsa sendiri? Kenapa ketika ada orang luar yang memakai nama Java untuk bahasa pemrograman tidak ada yang protes? Rugi kita kalau tak memanfaatkan kekayaan bangsa ini yang ragamnya tak tertandingi. Katong samua basodara ... Indonesia.

Sumber : http://global-world-all.blogspot.com/

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Linux Blankon"

Poskan Komentar